Yohanes K. Sugiyarta
Ber-imaginasi atau mengkhayal adalah aktifitas yang saya yakin, kita semua pernah melakukannya. Entah, kita lakukan sendirian di kamar sendiri, atau mungkin kita lakukan beramai-ramai. Entah dalam lamunan, atau dengan bercanda bersama teman-teman.
Dalam imaginasi, ada yang membayang menjadi superhero, sosok pahlawan dengan kekuatan super yang menolong banyak orang dan disegani. Atau, membayang menjadi putri cantik yang satu saat dipinang oleh pangeran kekasih hati.
Setelah sekian waktu berjalan, khayalan masa kecil itu ternyata ada yang mewujud menjadi kenyataan ketika sudah dewasa.
Pada dasarnya, kita semua suka mengkhayal. Ini kita lakukan untuk mencari sedikit kelegaan karena kita ingin sejenak keluar dari kesumpekan yang sedang kita alami saat ini. Maka, mungkin banyak dari kita sudah membayangkan akan melakukan piknik atau sekedar kuliner makanan kesukaan kita setelah COVID-19 enyah dari kita. Rasanya, menyenangkan sekali membayangkan bisa bebas melakukan apa yang kita sukai dari pada sekedar di rumah karena corona.
Imaginasi adalah daya kreatif manusia, yang membuktikan bahwa kita mempunyai daya transenden. Transenden adalah kemampuan manusia untuk berpikir mengenai segala sesuatu yang melampaui apa yang bisa kita indera saat ini. Sehingga, orang yang memegang HP bisa tertawa sendiri hanya karena sedang chatting dengan temannya. Bagi yang melihat, tentu mengherankan ada orang tertawa sendirian. Namun, bagi yang sedang chatting, obrolan di dunia maya ini terasa sangat nyata. Bahkan, seolah lawan bicara itu hadir nyata di hadapannya. Itulah transendensi, melampaui yang kasat mata, sehingga teman yang entah ada dimana seolah hadir nyata di hadapannya.
Hari ini, Senin Paskah III dengan Injil dari Yohanes 6:22-29, Gusti Yesus pun sedang mengajak semua orang untuk ber-transenden-si. Usai Gusti Yesus mempergandakan roti, esoknya banyak orang terus mengikuti Gusti Yesus. Bahkan, ketika Gusti Yesus sudah pergi pun, mereka terus mencari. Dan, setelah berjumpa, Gusti Yesus bicara:”…Bekerjalah, bukan untuk makanan yang akan dapat binasa, melainkan untuk makanan yang bertahan sampai kepada hidup yang kekal, yang akan diberikan Anak Manusia kepadamu..”
Ini adalah nasehat sekaligus teguran. Sebab, Gusti Yesus tahu bahwa mereka mencari Dia hanya untuk mendapat makanan tanpa harus bekerja. Mendapat makanan tanpa perlu bekerja, rasanya itu adalah keadaan ideal yang membahagiakan. Namun, Gusti Yesus memaksa mereka agar tidak berhenti menjadi bahagia oleh hal-hal yang sebatas bisa diindera, yaitu yang materi dan duniawi saja.
Melainkan, mereka dipaksa untuk mencari bahagia yang abadi, melampaui segala bentuk yang materi. Oleh sebab itu, mereka semua diajak untuk bekerja demi makanan yang akan bertahan sampai hidup kekal. Lalu, bagaimana caranya agar kita dapat mengerjakan pekerjaan yang membawa kepada hidup kekal itu?
Tiada lain, caranya adalah dengan melakukan pekerjaan yang dikehendaki oleh Allah, yaitu dengan percaya kepada Dia yang telah diutus Allah. Percaya berarti kita melakukan apa yang diajarkan oleh Dia, seperti yang dikatakan dalam bagian lain Injil kita : Jadi jikalau Aku membasuh kakimu, Aku yang adalah Tuhan dan Gurumu, maka kamupun wajib saling membasuh kakimu (Yoh 13:14).
Oleh sebab itu, mari terus kreatif menggunakan daya transenden (melamun, ber-imaginasi) untuk mencari cara meraih hidup kekal dengan melakukan pekerjaan-pekerjaan baik, dari pada kita terjebak dalam dunia materi yang sering justru membuat kita was-was dan khawatir.
Tuhan memberkati. Amin
Berkah dalem
Hari ini, Minggu Paskah III dengan Injil dari Lukas 24:13-35. Dalam versi berbeda, kembali kita diajak mengkontemplasikan perjalanan 2 orang murid ke Emaus.
Kita tahu, usai menyaksikan kematian sang Guru mereka menjadi lemah lunglai dan putus harapan. Sehingga, mereka memutuskan pulang kampong ke Emaus. Saking sedihnya, mereka tidak sadar bila di perjalanan mereka ditemani oleh sang Guru sejati.
Tak beda dengan pengalaman kita. Manakala kita sedang fokus dengan satu perkara, kita bisa tidak melihat hal yang lain. Fokus itu seolah sudah menguasai seluruh indera kita, dan mematikan rasa kita untuk yang lain. Kecuali, adalah perkara yang sedang menjadi fokus perhatian kita.
Bahkan, terjadi juga seorang yang dikenal pandai pun tiba-tiba menjadi seolah ‘pandir’ karena sedang ada dalam situasi yang begitu menghentak kesadaran, pengalaman shock. Waktu seolah berhenti berdetak, dan pandangan tiba-tiba kabur. Pikiran terasa buntu, sehingga nalar tak mampu berpikir apalagi mengambil keputusan.
Oleh sebab itu, ada nasehat yang berbunyi kesusahan sehari cukuplah untuk sehari (Matius 6:34). Tidak ada guna kita kuatir akan hari esok, sebab hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Ini adalah nasehat bijak yang berguna untuk kita mengendalikan diri. Sehingga, kita tidak dikuasai oleh kekuatiran dunia.
Jangan sampai, pengalaman 2 orang murid yang pergi ke Emaus ini menimpa kita semua: pengalaman pangling dengan Gusti Yesus. Saking batin kita dikuasai oleh kesedihan, kita tidak mampu melihat Gusti hadir dan menyapa kita semua, dan menjadi teman seperjalanan.
Itulah pentingnya arti sahabat yang bisa menjadi teman seperjalanan. Teman yang bisa saling mengingatkan, meneguhkan dan tak sungkan memberi teguran. Agar kita tidak larut, apalagi terperosok, dalam dunia sehingga kita pangling dengan asal dan tujuan hidup kita, yaitu Tuhan Allah kita.
Dari sebab itu, dalam kekawatiran dunia karena pandemic COVID-19 ini, mari kita sama-sama berupaya menjadi sahabat bagi yang lain. Harapannya, kita bisa menjadi teman seperjalanan yang bisa membantu untuk terus menjaga nyala api harapan. Semoga kita semua dimampukan menjadi berkat bagi sesama.
Tuhan memberkati. Amin
Berkah dalem
Hari ini adalah Pesta St Markus (Penulis Injil), dengan Injil dari Markus 16:15-20. Tentang Markus, lambangnya adalah Singa, raja gurun pasir, yang diambil dari permulaan Injilnya yang menyinggung soal gurun pasir.
Lebih dari pada itu, Markus juga adalah orang yang pergi ke Mesir dan disebut oleh Hieronimus sebagai bapa para pertapa di gurun pasir Mesir. Dia pergi ke Mesir setelah St Petrus dan Paulus dibunuh oleh Kaisar Nero.
Kutipan Injil hari ini, pun menggambarkan semangat (spiritualitas) dari St Markus yang sangat menghidupi semangat untuk mengabarkan Injil. ”Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk.” adalah perintah yang terus menggaung bukan hanya pada jaman Markus ada. Namun, setiap kali kita membaca kalimat itu, kita diingatkan bahwa perintah itu pun terus relevan (sesuai) untuk kita perjuangkan di Jaman ini.
Mewartakan Injil bukan soal membicarakan ayat-ayat yang tertulis di dalam Kitab Suci saja. Akan tetapi, mewartakan Injil berarti mewartakan kabar suka cita, karena Injil berarti adalah Kabar Gembira. Maka, mencari wujud kabar gembira dan mewartakannnya di jaman ini adalah adalah penting, agar kita bisa melaksanakan tugas sebagai murid-murid Nya.
Kabar gembira selalu menantang, dan menarik kita untuk melihat jauh ke masa depan. Bahkan, pandangan mata kita harus melampaui dunia. Agar, kita tidak meletakkan tujuan hidup hanya pada perkara hidup di dunia ini. Sebab, tak ada yang abadi di dunia ini. Oleh sebab itu, suka dan duka dunia ini pun tidak pernah abadi. Itulah alasannya, mengapa orientasi hidup kita terus ada dalam upaya mencari kebahagiaan yang kekal sifatnya.
”Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk.” adalah perintah Yesus Kristus sebelum Ia naik ke surga, menurut tulisan Injil Markus dalam kutipan Injil hari ini.
Perintah Agung ini kekal selamanya. Oleh sebab itu, kita bisa menemukan jejak para pendahulu yang tekun mewartakan kebenaran, keadilan, dan cinta kasih dengan menanggung segala resiko; entah mereka itu adalah awam, imam atau uskup. Bahkan, jelas dalam kisah Santo Santa, mereka sampai menanggung resiko siksa dan kematian demi mewartakan Injil. Dan, kematian mereka menjadi warta suka cita bagi kita semua. Sebab, kematian mereka menjadi peneguh bagi kita bahwa mengabarkan Injil di jaman ini bukanlah sia-sia.
Oleh sebab itu, hari ini ketika COVID-19 masih menjadi berita yang menimbulkan ketakutan dan kekawatiran, kita diteguhkan untuk membuka dan memeluk Injil kita. Bahkan, kita semua diajak menulis kisah perjuangan hidup kita sebagai Injil kita yang hidup pada jaman ini.
Maka, bersyukurlah anda yang tetap menyalakan harapan dan membagikannya kepada banyak orang. Sehingga, banyak orang tetap mempunyai harapan akan hidup yang lebih baik kendati situasi sedang tidak menentu dengan berita PHK, krisis ekonomi, bantuan yang belum cair dari Pemerintah, larangan mudik dan seterusnya. Mari, kita terus mengabarkan kabar suka cita seperti para pendahulu kita semua.
Tuhan memberkati. Amin
Berkah dalem
Renungan kali ini, saya akan menyebut langsung bacaan hari ini, Jumat Pekan Paskah II ( Yohanes 6:1-15 ). Injil berisi kisah tentang mukjizat, Gusti Yesus menggandakan roti.
Mukjizat itu terjadi setelah Yesus melihat orang banyak yang berbondong-bondong mengikuti Dia, sampai ke seberang danau Galilea. Yesus bertanya kepada para murid,”Di manakah kita akan membeli roti, sehingga mereka ini dapat makan?” Pertanyaan ini dijawab oleh Filipus, “Roti seharga dua ratus dinar tidak akan cukup utuk mereka ini, sekalipun masing-masing mendapat sepotong kecil saja!”
Dari dialog ini, kita bisa langsung menemukan perbedaan sikap dari Yesus dan para murid.
Ketika Gusti Yesus ingin memberi mereka makan, para murid berpikir bagaimana caranya sebab mereka tidak mempunyai uang untuk membeli makanan yang cukup untuk orang sebanyak itu? Pikiran para murid sangat masuk akal, dan wajar sekali. Kita mungkin juga akan melontarkan gagasan serupa, bila ada di posisi mereka.
Namun, para murid ditunjukkan bila manusia Yesus yang ada di hadapan mereka bukanlah manusia biasa. Dia adalah sang Putra yang kuasa membuat mukjizat sehingga orang banyak itu bisa makan, bahkan masih ada sisa 12 bakul penuh berisi potongan-potongan dari kelima roti jelai yang lebih setelah semua orang itu makan.
Para murid sedang ditunjukkan bahwa dalam kekurangan dan keterbatasan mereka, tetap diajak untuk berbagi dan memikirkan nasib banyak orang. Mukjizat itu rasanya masih terus terjadi hingga hari ini, sebab kita masih suka mendengar kesaksian di jaman modern ini bagaimana orang yang berbagi namun tidak merasa berkekurangan. Sebaliknya, banyak kisah juga ketika orang yang terus berhemat dan mencoba menumpuk harta malah terus merasa kurang.
Dalam pandemi COVID-19 ini, tak dipungkiri rasa cemas dan kawatir membuat kita spontan memikirkan kebutuhan diri sendiri. Sehingga, kita paham ketika banyak orang memborong makanan seperti sebuah perlombaan. Namun, kita belajar dari Guru kita untuk tidak memikirkan nasib diri sendiri. Situasi yang tidak mudah seperti hari ini, justru menjadi kesempatan bagi kita untuk semakin peka melihat tetangga kiri kanan kita. Bila sekiranya ada yang perlu mendapatkan bantuan, ini saatnya kita melakukan ajaran Guru, Tuhan kita.
Sebab, sekali lagi, kita memang tinggal di dunia namun kita bukan milik dunia. Selayaknya kita belajar mengikuti Guru dan teladan kita, yang mengajarkan hitungan dan sikap cinta kasih dalam wujud kerelaan untuk berbagi. Ini adalah bahasa Surga. Dengan demikian, semoga di atas bumi seperti di dalam Surga.
Tuhan memberkati. Amin
Berkah dalem
Desa mawa cara, Negara mawa tata adalah ungkapan Jawa yang kalau diterjemahkan bebas, kira-kira bunyinya adalah: Desa memiliki aturan, Negara mempunyai hukum.
Namun, ungkapan ini juga mau mengatakan bahwa tiap daerah mempunyai adat kebiasaan yang berbeda. Sebagai contoh adalah, orang Jogja dikatakan sebagai orang yang halus dalam ber-bahasa dan makanannya adalah gudeg. Padahal kita tahu, tak semua orang Jogja adalah seperti itu. Itulah stereotype atau cap atau labeling.
Hari ini, Kamis Pekan Paskah II, bacaan Injil ( Yohanes 3:31-36 ) bercerita soal kesaksian Yohanes Pembaptis tentang Yesus, sebagai Dia yang berasal dari atas. Artinya adalah Dia tidak berasal dari bawah, atau bumi.
Serupa ungkapan Jawa di atas, Desa mawa cara, Negara mawa tata, berasal dari atas berarti mempunyai ciri berbeda dengan yang berasal dari bawah, atau bumi atau Dunia.
Yang berasal dari bumi/Dunia, dia termasuk pada bumi dan akan berkata-kata dalam bahasa bumi. Yang berasal dari Surga ada di atas bumi. Dan, akan memberi kesaksian tentang apa yang dilihatnya, dan yang didengarnya. Siapakah mereka yang berasal dari Surga? Mereka adalah yang menerima karunia ROH dan percaya kepada Dia.
Namun, sejatinya hal ini tidak mudah. Apalagi, ketika ada pandemi yang kita tidak tahu akan berakhir kapan. Situasi ini mudah sekali menyulut rasa takut dan kawatir kita. Kita gampang digelisahkan oleh banyak perkara. Informasi dan berita, membuat kita berpikir dan bertanya namun tak selalu menemu jawabannya. Sehingga, takut dan kawatir itu semakin besar.
Padahal, rasa takut dan kawatir itu tidak ada untungnya. Sebab, rasa takut dan kawatir itu tidak mengubah apapun. Jadi, mengapa takut dan kawatir dipelihara? Bukankah lebih baik kita mempertebal rasa percaya kita bahwa Allah akan membuat semuanya menjadi baik. Karena, kita semua mengimani bahwa Allah adalah Tuhan yang maharahim.
Oleh sebab itu, kita semua pun berupaya membuat kebaikan dalam situasi tak menentu ini. Kita saling berlomba melakukan kebaikan, dengan peduli dan rela berbagi. Alasannya adalah, karena Allah yang kita Imani telah lebih dahulu mengasihi kita sehingga, kita mengikuti ajaran-Nya dengan mengasihi sesama.
Itu juga alasannya, kendati Misa terselenggara online, kita tetap setia mengikuti dengan rasa haru. Karena kita tidak mau, obor iman kita kehabisan minyak. Dan, nyala apinya mati tertiup angin ketakutan dan kekhawatiran.
Saudari dan saudara, kita semua berasal dari atas. Maka, marilah kita berpikir dan bertindak dengan cara dari atas. kita bukan dari bumi, maka janganlah ketakutan dan kekhawatiran Dunia menghanyutkan kita hingga tenggelam. Seolah-olah, kita kita tidak mengenal Tuhan.
Mari terus eratkan gandeng tangan kita, siapapun kita, dimanapun berada. Agar nyala api iman dan harapan ini tak pernah padam. Amin
Tuhan memberkati
Berkah dalem
