Yohanes K. Sugiyarta
Kita melihat bahwa segala sesuatu ada ber-pasangan, dalam hidup ini. Ada kiri, maka ada kanan. Ada terang, maka ada gelap. Ada siang, maka ada malam. Ada perempuan, ada laki-laki. Ada kebaikan, dan ada yang kejahatan dst.
Hal serupa juga menjadi pembicaraan Gusti Yesus dengan Nikodemus, sebagai kelanjutan kisah kemarin dalam Injil hari ini: Yohanes 3:16-21 (Rabu biasa Pekan Paskah II).
Bila kenyataan hidup ini adalah berpasangan, jelas artinya bahwa hidup manusia selalu berhadapan dengan pilihan. Dan, pilihan seperti apa yang dibuat oleh manusia, itulah yang akan menyelamatkan atau membinasakannya. Namun, sudah menjadi kecenderungan umum bahwa manusia memilih hal yang menguntungkannya atau memudahkannya. Sehingga, kalau bisa duduk santai, mengapa harus berkeringat dan bersusah payah? Bila memikirkan diri sendiri lebih enak, ngapain perlu memikirkan nasib orang lain?
Dalam perbincangan antara Gusti Yesus dengan Nikodemus, kita diajak naik level dalam melhat kenyataan hidup ini. Pilihan bukan diletakkan, hanya pada perkara senang dan tidak senang saja. Tetapi, pilihan dilihat dalam kerangka tujuan akhir hidup manusia, yaitu pada perkara BENAR dan TIDAK BENAR.
Sebab, melakukan yang benar di hadapan Allah adalah pilihan yang akan membawa manusia pada terang. Supaya manusia tahu mana yang benar dan salah, Anak-Nya yang tunggal dikaruniakan kepada kita. Dialah terang yang diutus ke tengah kita, agar kita yang percaya kepada Nya memperoleh hidup kekal, dan tidak binasa.
Kendati demikian, kita semua tetap ada dalam bayang-bayang kebinasaan. Kita masih menyukai kegelapan dari pada pergi kepada terang itu. Sepanjang kita masih menyukai yang jahat, kita akan membenci terang supaya perbuatan yang jahat itu tetap tersembunyi. Itulah mengapa, ketika manusia berpindah ke kehidupan kekal dikatakan ada sukma yang tinggal di tempat gelap. Karena ketika masih ada di dunia, dia lebih menyukai kegelapan dari pada terang.
Dari sini, kita mengerti bahwa kegelapan setelah kematian bukanlah hukuman dari Allah, namun karena manusia itu sendiri dari semula tidak menyukai terang. Sedangkan Allah adalah sumber terang itu sendiri. Bagaimana mungkin, seseorang yang biasa tinggal dalam kegelapan bisa nyaman berjumpa dengan yang terang benderang? Bukankah, ia harus belajar mengenal terang itu dari sejak sekarang, agar nanti pun bisa tinggal bersama dengan Sang Terang Sejati dalam keabadian?
Sehingga, dalam pembicaraan dengan Nikodemus pun, Gusti Yesus mengatakan jika Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya.
Dari sebab itu, marilah sejenak kita merenungkan hidup kita masing-masing. Menilik diri kita dalam keheningan yang dalam. Melihat kembali semua pilihan yang telah kita lakukan. Apakah saya lebih menyukai terang dari pada gelap, atau justru sebaliknya saya lebih memilih yang jahat?
Dalam situasi pandemi COVID-19 ini pun, pilihan itu tetap terbuka bagi kita semua. Dan, marilah kita memohon kepada Allah sang Terang Sejati; agar kita mencari dan tetap memilih yang benar dan yang baik, dari pada yang menyenangkan dan yang kita sukai. Kendati, untuk memilih yang benar dan yang baik, kita perlu berkeringat dan berlelah-lelah. Sebab kita tahu, dengan memilih yang benar, kita sedang menuju kepada Terang yang abadi.
Tuhan memberkati. Amin
Berkah Dalem
Satu ketika, ada sebuah toko yang padat pembeli sedang memilah dan memilih barang jualannya. Sementara banyak orang mengernyit heran, karena menurut mereka barang yang dijual di toko itu harganya adalah mahal. Rupanya, sudah beberapa waktu sebelumnya, toko itu memberitakan akan adanya diskon besar untuk semua item.
Dari contoh ini, kita diingatkan akan adanya kecenderungan dalam diri kita untuk mempercayai kabar yang diharapkan. Serupa dengan mereka yang hobby belanja, akan sangat peka dengan berita diskon. Sehingga, spontan ada dorongan untuk segera membeli barang yang sudah sekian lama diamati. Dan, tak sempat mengkritisi apakah memang harga yang disematkan adalah harga yang wajar. Atau, harga tersebut telah dinaikkan dulu sebelum di-diskon?
Hal ini juga berlaku untuk perkara yang berbeda. Sebab, sekali lagi, kita semua mempunyai kecenderungan untuk segera mempercayai kabar yang kita harapkan terjadi. Sehingga, ada banyak kisah orang tertipu dengan SMS yang memberitahu bahwa kita mendapat undian berhadiah.
Hari ini, Selasa Biasa Pekan Paskah II, kita diajak merenungkan Yohanes 3:7-15, yang menjadi kelanjutan kisah kemarin tentang Nikodemus sebagai Pemimpin Agama Yahudi yang bingung dengan kabar dari Gusti Yesus. Bagaimana mungkin, seseorang yang sudah tua dilahirkan kembali?
Dalam Injil hari ini, Gusti Yesus menandaskan kembali bahwa ajaran itu berasal dari apa yang Dia lihat. Namun, Nikodemus tetap tidak percaya. Sehingga, Gusti Yesus pun menegaskan lagi dengan pernyataan: bagaimana mungkin Nikodemus percaya akan perkara surgawi, andai untuk perkara duniawi saja Nikodemus tidak percaya?
Kita pun kemudian perlu merenungkan, sejauh mana kita telah memeluk iman kepercayaan kita? Apakah sungguh kita sudah percaya kepada-Nya? Sebab, bagi yang percaya kepada-Nya, akan menyerahkan dirinya seutuhnya dalam penyelenggaraan Allah. Mereka yang percaya kiranya dimampukan untuk menepis ketakutan dan kekhawatiran, supaya hatinya dipenuhi damai sejahtera. Dan, pada akhirnya kita pun beroleh hidup yang kekal.
Dalam pandemi COVID-19 seperti sekarang ini, tidak mudah untuk mengembangkan kepercayaan dan kepasrahan sebagai wujud orang ber-IMAN. Namun, situasi ini membuat kita tertantang untuk terus menerus memperbaharui iman kita. Walau hati kita jenuh karena terbatasi perjumpaannya, tak bisa menyambut komuni kudus, tak bisa bekerja seperti biasa; namun berkat IMAN yang kita pegang, kita tidak kehilangan harapan.
Kita terus kreatif menghadapi situasi ini dengan memegang kidung harapan dan iman. Kita terus menatap masa depan dengan harapan agar hidup kita lebih baik dari saat ini. Mari kita eratkan gandeng tangan kita, sebab Tuhan terus berkarya melalui siapapun kita yang terus berharap dalam iman.
Tuhan memberkati kita semua. Amin
Berkah dalem
Pernah ada kisah ketika seseorang mengalami pengalaman terpuruk sangat dalam, hingga hidup tak lagi bermakna. Sampai satu ketika, dia bertemu dengan seseorang yang bisa memberi penghiburan, sehingga dia kembali mendapat pegangan. Saat itulah, dia merasa bahwa hidup mendapat makna baru. Cara berpikir, merasa dan bertindaknya; sudah berubah.
Hari ini, Senen Biasa Pekan Paskah II, Injil Yohanes 3:1-8 mengajak kita merenung tentang makna lahir kembali. Gusti Yesus berbicara kepada Nikodemus, yang adalah pemimpin agama Yahudi, “…jika seorang tidak dilahirkan kembali, ia tidak dapat melihat Kerajaan Allah.”
Kata-kata Gusti Yesus ini, membingungkan Nikodemus. Sebab, bagaimana mungkin seorang yang sudah tua bisa masuk kembali ke Rahim ibunya, dan dilahirkan kembali? Mungkin, kita pun juga akan bertanya dengan pertanyaan serupa: bagaimana mungkin hal itu terjadi?
Namun, yang dikehendaki oleh Gusti Yesus bukanlah lahir secara jasmani berupa daging, layaknya kelahiran yang biasa. Yang dikehendaki oleh Gusti Yesus, adalah kelahiran dari air dan roh. Dengan pencurahan air dan roh itu, kita diberi cara pandang (cara berpikir, merasa dan bertindak) yang baru.
Ajaran ini tidak mudah, bahkan sulit untuk dinalar. Namun, cara pandang baru itu menjadi kekuatan manakala kita mengalami kejatuhan. Sehingga, kendati kita terjatuh kita mendapat kekuatan untuk bangun lagi. Dan, setiap kali kita mampu untuk bangun kembali, saat itulah kita menemu makna baru tentang kehidupan. Dan, itulah arti dari lahir kembali.
Merasakan pademi COVID-19 yang terjadi, kita bisa mensikapi dengan kekawatiran, keluhan, ratapan, atau segala macam umpatan. Namun, kita juga mempunyai pilihan untuk mensikapi dengan keyakinan, solidaritas, kepedulian sembari semakin tekun dalam doa.
Maka, mari kita hadapi bersama pandemi COVID-19 ini dengan keyakinan iman kita, sembari terus membangun kepedulian. Mari kita berharap agar COVID-19 in menjadi sarana kita untuk lahir kembali. Lahir memeluk SALIB Kristus, agar kita boleh berharap untuk turut serta bangkit bersama Nya manakala saatnya tiba.
Tuhan memberkati. Amin
Berkah dalem
Dalam hidup ini, saya yakin bila kita pernah berjumpa dengan seseorang yang sangat mengesan sehingga sulit dilupakan, kendati sudah ada perpisahan. Memberi arti, bahwa perjumpaan itu sungguh berkualitas. Pertanyaannya adalah, apa tanda bahwa perjumpaan itu berkualitas? Jawabannya adalah ketika perjumpaan itu membawa perubahan.
Hari ini, Minggu Paskah II (Kerahiman Ilahi), mengajak kita merenungkan Yohanes 20:19-31. Dalam bacaan ini, Gusti Yesus menampakkan diri dengan sapaan: Damai sejahtera bagi kamu. Penampakan itu terjadi, dan dialami oleh para murid yang bersembuyi di sebuah tempat dengan pintu-pintu terkunci karena takut kepada orang Yahudi. Mendapat penampakan itu, mereka bersuka cita. Namun saat itu terjadi, Tomas tak ada bersama mereka sehingga, dia tidak percaya.
Tepat 8 hari kemudian, Gusti Yesus menampakkan diri lagi dan mempersilahkan Tomas mencucukkan jarinya ke dalam lambung-Nya. Saat itulah, Tomas berkata: Ya Tuhanku dan Allahku dan percaya.
Penampakan ini tidak terjadi dalam durasi yang lama. Kendati demikian, perjumpaan itu sungguh berkualitas sehingga, Tomas (dan para murid) BERUBAH. Penampakan mengubah cara pandang para murid tentang salib. Salib semula berarti kesia-siaan, sekarang mereka tahu bahwa Salib menjadi jalan mulia Tuhan Yesus. Mereka yang semula sedih, kini berubah menjadi suka cita. Tomas pun kembali percaya dan suka cita, namun Gusti Yesus memberi nasehat dalam kalimat: ”Karena telah melihat Aku, maka engkau percaya. Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya.”
Pengalaman ini sangat luar biasa, sehingga kalimat Tomas itu pun terus menerus kita kenangkan saat elevasi (Imam mengangkat Tubuh & Darah Kristus) dalam Ekaristi. Pada saat itu, kita juga mendaraskan (dalam hati), kalimat: Ya Tuhanku dan Allahku. Dengan kalimat itu, kita berharap jangan menjadi Tomas-Tomas lain di jaman ini.
Maka sebagai orang Katolik, kita pun ingin berjumpa dengan Gusti Yesus. Sehingga kita berusaha tekun berdoa, ber-devosi, membaca Kitab Suci, merayakan Sakramen dan lainnya. Bahkan, kita juga membiasakan diri untuk berjiarah di tempat-tempat yang dianggap suci oleh Gereja. Walau tak jarang bosan yang melanda batin kita. Namun, begitu Allah menyapa maka rasa batin kita penuh dengan suka cita tak terkira. Itulah penghiburan rohani kita saat ini. Hati ini penuh dengan damai sejahtera, serupa kalimat sapaan Gusti Yesus ketika menampakkan diri kepada para murid.
Maka, kendati pandemi COVID-19 masih berseliweran, kita terus menjaga hati kita penuh dengan percaya. Kita tidak ingin menjadi Tomas-Tomas di jaman ini yang meragukan kebangkitan, agar hati kita pun penuh dengan damai sejahtera seperti sapaan Gusti Yesus dalam penampakan hari ini.
Semoga kita saling meneguhkan dan menguatkan satu sama lain, berbagi damai sejahtera satu dengan lainnya. Amin
Berkah dalem
Pernah punya pengalaman diutus? Pasti kita semua pernah. Entah untuk tugas penting yang rahasia sifatnya, seperti memesan kue ulang tahun; atau sekedar pergi ke warung untuk membeli bumbu dapur. Apapun itu, perutusan adalah tugas yang menempatkan kita sebagai utusan.
Menjadi utusan, berarti kita telah dipilih karena dianggap bisa menyelesaikan tugas dengan baik. Dan demi tugas itu, kita juga dibekali untuk menggenapi apa yang sudah kita miliki.
Hari ini, Gusti Yesus menampakkan diri kepada 11 murid yang lain ( Mrk 16:9-15), karena kesebelas murid itu tidak percaya dengan cerita Maria Magdalena, dan juga cerita dari 2 murid yang sedang dalam perjalanan ke Emaus. Kesebelas murid itu sedang berkabung dan menangis, sehingga kisah dari teman mereka seolah dongeng di siang bolong. Maka, Gusti Yesus mencela kedegilan hati mereka, yang tidak percaya kepada orang-orang yang telah melihat Dia sesudah kebangkitan-Nya.
Tak kita pungkiri bahwa kebangkitan orang mati adalah keelokan yang sulit terselami, manakala hati dipenuhi dengan sedih dan duka. Berita gembira kebangkitan seolah bertemu pintu rapat terkunci, sehingga tak bisa menepis rasa sedih yang sedang menyelimuti hati.
Serupa dengan pengalaman sehari-hari kita. Saat hati ini dirundung duka, berita gembira tidak bisa kita terima dengan lapang dada. Justru kegembiraan malah membuat semakin sesak dada yang sedang penuh dengan tangisan duka.
Di sini kita belajar, bahwa mengubah duka menjadi gembira adalah lompatan sikap dari kita. Serupa dengan lompatan-lompatan lainnya, perlu banyak energy kita keluarkan dan gerak kaki yang kuat, dan mungkin kita akan mendarat dengan sakit karena kaki terantuk batu atau tangan harus mencengkeram apapun yang ada di depan kita. Namun bagi yang berani melompat, akan sadar bahwa dia sudah berpindah tempat. Berpindah dari duka kepada suka cita.
Gusti Yesus menampakkan diri kepada para murid dalam rentetan berbeda, untuk menarik mereka melompat keluar dari duka menuju pada suka cita. Memelekkan mata agar tak berhenti pada ratapan sedih karena kehilangan, namun menjadi nyanyian suka cita karena harapan yang terus menyala. Sebab, Kristus disalib untuk bangkit mulia, bukan untuk mati sia-sia.
Sebab itu, di akhir Injil hari ini, Gusti Yesus mengutus mereka: Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injjil (kabar gembira) kepada segala makhluk! ”
Dalam situasi yang membosankan karena wajah tertutup masker, dan berjarak karena physical distancing; kita tetap diutus untuk melompat dari rasa tidak berdaya menjadi pribadi yang penuh suka cita dan mewartakannya kemana-mana. Mari bergandengan tangan menebarkan suka cita Injil. Membagi gembira di manapun kita ada. Tuhan memberkati.
Amin
Berkah dalem
